entah berapakali aku harus mengingatkan tanganku yang menggoda rerumputan
saat gelisah terus membanjiri benakku
duh
dimana takdir mempertemukanku denganmu?
dimana kuasa jika yang pasti adalah kehendaknya?
duh
kehendaknya membakukan semua...
namun tak juga kupahami
apakah ini kehendaknya?
tak juga kupahami sampai aku menemukanmu diseberang sana
menengadah kelangit
seolah menunggu keajaiban datang
lalu mengusap airmata
duh
rasa sakit apa yang kau rasa
sambil memegang pena kugambarkan keindahanmu lewat kata2 murahan
yang aku temukan di social media
lalu kurangkai berharap engkau tak menutup telinga
duh
tak muat juga kertasku aku menggambarkan indahmu
kuteriakkan saja resahku
entah aku yang bisu
atau engkau yang tak mau mendengarku
kulihat engkau tetap menengadah ke langit
seolah menunggu keajaiban datang
lalu pergi dengan senyuman
Aku ragu. Tapi aku tak punya pilihan.
Aku tak mungkin meneriakkan lagi walau aku tak malu.
Aku tak mungkin merubah raut muka bahgiamu menjadi sendu.
Aku tak mungkin mengubah harapmu menjadi sia-sia.
Kau lebih tahu.. kau lebih tahu siapa aku. Mungkin daripada aku sendiri.
Aku berharap semuanya pasti akan berbeda.
Meski tak mungkin menumbuhkan jiwa itu lagi.
yah,, aku mungkin cuma merasa sunyi.
Setiap kesunyian ini memiliki sebuah pemahaman yang berbeda untuk dimaknai.
Jauh dari pemikiranku saat itu.
Hmm. Aku tak memiliki semangat yang kaupunyai.
Mungkin itu yang membuatku iri darimu.
Walau aku tak sepantasnya iri..
lelaki tak sepantasnya iri pada wanita.
Begitu kata orang.
ini aneh.
Aku bahagia dalam iriku.
Aku iri dalam senyummu.
Kenapa aku tak bisa tersenyum sepertimu.
sekali lagi pertanyaan baru: kenapa harus tersenyum sepertimu?
ah.. kenapa kamu masih menjadi parameter hidupku.
Kamu terlalu hebat mungkin.
Tangan kecilku tak mampu menjangkaumu.
Apologi? Hahahaha... bukankah itu membanggakan?
Ada seseorang diseberang sini cemburu akan senyummu?
Ah,,, mungkin aku cuma ingin tersenyum sepertimu.
REGARD
saat gelisah terus membanjiri benakku
duh
dimana takdir mempertemukanku denganmu?
dimana kuasa jika yang pasti adalah kehendaknya?
duh
kehendaknya membakukan semua...
namun tak juga kupahami
apakah ini kehendaknya?
tak juga kupahami sampai aku menemukanmu diseberang sana
menengadah kelangit
seolah menunggu keajaiban datang
lalu mengusap airmata
duh
rasa sakit apa yang kau rasa
sambil memegang pena kugambarkan keindahanmu lewat kata2 murahan
yang aku temukan di social media
lalu kurangkai berharap engkau tak menutup telinga
duh
tak muat juga kertasku aku menggambarkan indahmu
kuteriakkan saja resahku
entah aku yang bisu
atau engkau yang tak mau mendengarku
kulihat engkau tetap menengadah ke langit
seolah menunggu keajaiban datang
lalu pergi dengan senyuman
Aku ragu. Tapi aku tak punya pilihan.
Aku tak mungkin meneriakkan lagi walau aku tak malu.
Aku tak mungkin merubah raut muka bahgiamu menjadi sendu.
Aku tak mungkin mengubah harapmu menjadi sia-sia.
Kau lebih tahu.. kau lebih tahu siapa aku. Mungkin daripada aku sendiri.
Aku berharap semuanya pasti akan berbeda.
Meski tak mungkin menumbuhkan jiwa itu lagi.
yah,, aku mungkin cuma merasa sunyi.
Setiap kesunyian ini memiliki sebuah pemahaman yang berbeda untuk dimaknai.
Jauh dari pemikiranku saat itu.
Hmm. Aku tak memiliki semangat yang kaupunyai.
Mungkin itu yang membuatku iri darimu.
Walau aku tak sepantasnya iri..
lelaki tak sepantasnya iri pada wanita.
Begitu kata orang.
ini aneh.
Aku bahagia dalam iriku.
Aku iri dalam senyummu.
Kenapa aku tak bisa tersenyum sepertimu.
sekali lagi pertanyaan baru: kenapa harus tersenyum sepertimu?
ah.. kenapa kamu masih menjadi parameter hidupku.
Kamu terlalu hebat mungkin.
Tangan kecilku tak mampu menjangkaumu.
Apologi? Hahahaha... bukankah itu membanggakan?
Ada seseorang diseberang sini cemburu akan senyummu?
Ah,,, mungkin aku cuma ingin tersenyum sepertimu.
REGARD
No comments:
Post a Comment