Thursday, January 31, 2013

Keruh

engkau dan aku seperti berkaca di air keruh
yang kita lihat hanyalah keburaman
bayang kita... hanya dibias lumpur...
jangan.. jangan usik air itu...
tangan kita hanya akan memperkeruh...
biarkan mengendap... seperti lara yang tiap hari kita bawa
dalam hati kita
suatu saat... cobalah bercermin kembali...
di air sama...
arir yang pernah kita maki keruhnya
air yang pernah merekam bayang buram kita....
saat itu mungkin kita telah lupa akan luka
saat itu mungkin kita telah lupa akan muka

lagu untuk yang bermata indah


aku sedang menyanyikan lagu untuk sebuah nama...yang memliki mata yang indah...begitulah aku menyebutnya...
        aku tak sekalipun berusaha untuk mengenalnya walaupun aku suka melihan kerningan kedua matanya...tatapannya tajam...seperti terpenjara dara ruangan besi...gelap..sendiri...sekan menuntunku untuk membawaknnya sedikit cahaya untuk melebarkan sedikit lensa matanya...
                        "kenapa engkau suka melihat mataku?"
                            Karena aku benci melihat tatapan duia?
                                aku melihat sebuah dunia lain dalam matamu...dunia yang tenang yang mencoba melepaskan diri dari kepalsuan...dunia yang apa adanya...dunia yang tak memiliki sebuah nama...seperti dirimu...hanya memiliki keindahan...seperti matamu"
    aku tahu ia suka mendengarkan bualanku....ia menghentikan mulutku dengan keberanjakannya dari sampingku....ia sekan ragu untuk mendengarkannya lagi....ia takut akan mimpi yang selama ia menghantui...ia takut merasakan kehangatan...karena ia tak pernah siap untuk menerima kenyataan....
                    Bahwa setiap yang memiliki awalan pasti memiliki akhiran
                        hey...aku tidak membual...sekalipun dunia itu tak pernah nyata....maukah kau memberikan nama untuknya....agar aku mampu menyapa nya saat aku menemuinya lagi...walapun itu bukan dalam matamu....
                    dia tertunduk...dia ingin melepaskan genggaman tanganku yang mencoba menahannya....aku mengerti...dia ragu...aku jauh lebih ragu dari itu...namun aku mencoba mengatasi keraguan itu...dengan sebuah senyuman palsu...
            hey...berhentilah...bukannkah takdir telah menunutunmu kesini?"
        benarlah setiap awaln meiliki akhiran...tapi tak cobakah kamu nikamtai sejenak keresahanku....
                    hey...aku...adalah bagian diantara awalan dan akhiran yang engkau jalani.....
            aku tahu jika kereta ini mau menunggu....dia ingin mengatakn sesuatu....
    tentang impiannya....tentang apa yang dia harapkan pada takdirnya....
                aku selau terlambat melakukan ini....aku selamu terlambat...aku menyakitinya kali ini....
                                            walaupun aku juga merasakan sakit yang serupa....
        aku tertawa....saat dia mulai beralu....aku tertawa lebih kencang...saat bayangnya telah lenyap dari pandangku..
                aku menertawakan kebodohanku dengan menyulut lagi sebatang rokok yang telah padam...
                            saat aku memandang matanya...
                                    matanya telah berkata jujur...sejujur takdir...

            hingga kini seseorang takkan percaya kalau aku pernah bilang padanya...
                                aku suka tatapanmu...
                                    dan aku tak pernah menyesali hal itu.....

                                                                Malang, 15 April 2011 23.47 WIB

sudah desember lagi sayang


Sudah desember lagi sayang...
mungkin kau sudah lupa tentang nyanyian sumbangku
yang aku nyanyikan walau tak bermakna
membuat matamu melebar
atau ajakan isengku berkelana menyusuri kota di tengah malam gelap gulita....
atau tentang pundakku yang menahan berat tubuhmu yang haus manja..
atau tentang emas perak yang tak lagi berharga dibandingkan keasyikan kita bersama...
atau tentang semua kebenaran yang kita susun berbeda dengan semua manusia...
yah... kita menyusunnya seolah kesadaran kita satu....
dan tak ada yang menyadarkan kita tentang benar dan salah...
karena kita punya benar dan salah sendiri...
bahkan terkadang benarmu beda denganku
dan kita pun bertengkar... walau akhirnya tertawa...

Kini sudah tiga tahun sayang...
sejak desember itu....
aku masih menyimpan benarmu dan benarku....
aku masih menyimpan nyanyianku dan tatap matamu...
aku masih menyimpan semuanya termasuk perasaanku yang kacau...

aku masih menyimpannya walau aku bingung untuk apa kusimpan semuanya.
tolong beritahu aku untuk apa kusimpan semua ini?

Sayang,,, Selamat Desember

Pare. 5- Des- 2011

Tragedi apa lagi?

Kita seperti mengirimkan anak2 kita ke mesin pembunuh..
Menjejalinya dengan pengetahuan
namun tak menghapuskan dahaga kasih sayang
mengajarinya cara bertahan hidup.
Sekaligus menyudahinya.
Membimbingnya menitis harapan.
Namun tak sedikitpun kita bukakan jalan
mengajarinya menumpuk harta
namun tak kita ajari berbagi dengan sesama.
Mengajari mereka tentang cinta.
Tapi tidak menahan nafsunya.
lalu...
Tragedi apa lagi yang akan kita ciptakan?

ingin tersenyum sepertimu

entah berapakali aku harus mengingatkan tanganku yang menggoda rerumputan
saat gelisah terus membanjiri benakku
duh
dimana takdir mempertemukanku denganmu?      
dimana kuasa jika yang pasti adalah kehendaknya?
duh
kehendaknya membakukan semua...
namun tak juga kupahami
apakah ini kehendaknya?
tak juga kupahami sampai aku menemukanmu diseberang sana
menengadah kelangit
seolah menunggu keajaiban datang
lalu mengusap airmata

duh
rasa sakit apa yang kau rasa
sambil memegang pena kugambarkan keindahanmu lewat kata2 murahan
yang aku temukan di social media
lalu kurangkai berharap engkau tak menutup telinga

duh
tak muat juga kertasku aku menggambarkan indahmu
kuteriakkan saja resahku
entah aku yang bisu
atau engkau yang tak mau mendengarku
kulihat engkau tetap menengadah ke langit
seolah menunggu keajaiban datang
lalu pergi dengan senyuman

Aku ragu. Tapi aku tak punya pilihan.
Aku tak mungkin meneriakkan lagi walau aku tak malu.
Aku tak mungkin merubah raut muka bahgiamu menjadi sendu.
Aku tak mungkin mengubah harapmu menjadi sia-sia.

Kau lebih tahu.. kau lebih tahu siapa aku. Mungkin daripada aku sendiri.
Aku berharap semuanya pasti akan berbeda.
Meski tak mungkin menumbuhkan jiwa itu lagi.
yah,, aku mungkin cuma merasa sunyi.

Setiap kesunyian ini memiliki sebuah pemahaman yang berbeda untuk dimaknai.
Jauh dari pemikiranku saat itu.
Hmm. Aku tak memiliki semangat yang kaupunyai.
Mungkin itu yang membuatku iri darimu.
Walau aku tak sepantasnya iri..
lelaki tak sepantasnya iri pada wanita.
Begitu kata orang.

 ini aneh.
 Aku bahagia dalam iriku.
 Aku iri dalam senyummu.
Kenapa aku tak bisa tersenyum sepertimu.
 sekali lagi pertanyaan baru: kenapa harus tersenyum sepertimu?
 ah.. kenapa kamu masih menjadi parameter hidupku.
Kamu terlalu hebat mungkin.
 Tangan kecilku tak mampu menjangkaumu.

Apologi? Hahahaha... bukankah itu membanggakan?
 Ada seseorang diseberang sini cemburu akan senyummu?
 Ah,,, mungkin  aku cuma ingin tersenyum sepertimu.


REGARD

Malam III


aku masih berjalan menembus malam
dan kutemukan beberapa jejakmu disana
kucium aroma tubuhmu disana
kujelajahi nada2 anggun nan memekakkan telinga disana
namun tetap saja
malam ini tak bisa sama dengan malam bersamamu
malam ini tetap saja seperti malam kemarin..
~~~aku begitu heran dengan keangkuhanku

Malam II

loncatan loncatan takdir
memindahku keberbagai malam
namun tetap saja
malam ini seperti malam kemarin
bukan seperti malam bersamamu
Dan kuhembuskan nafas2mu di alunan lagu yang tidak merdu
dan mengganggu
namun sedetik saja mampu menghilangkan rasa
yang orang bilang itu rindu
ah itu tidak perlu
aku tak pernah menyesal melewatkan malam denganmu
~~~aku begitu heran dengan keangkuhanku

Malam I

Malam ini tidak berbeda dengan malam kemarin
tapi keharuan yang menyesakkan perlahan muncul memenuhi kamarku
menggelapkan pandangan.
seperti asap rokok tebal yang tak kunjung keluar dari jendela
memedihkan  dan perlahan memaksa keluar air mata
sayang sekali
Malam ini masih sama seperti malam kemarin
tapi tidak seperti malam denganmu
malam sewaktu kau meracau hebat sambil memagangi tanganku.
"dont let me go"
~~~aku begitu heran dengan keangkuhanku